Willy Archipelago
Minggu, 01 Desember 2013
Senin, 22 Juli 2013
VIRUS TERBESAR YANG PERNAH ADA
Virus pandora tidak berbahaya bagi manusia, malah memberikan keuntungan karena mengatur fitoplankton.
Ilmuwan baru saja menemukan virus terbesar dari yang pernah ditemukan. Virus pandora adalah nama bagi virus yang memiliki panjang satu mikron atau sekitar seperseribu milimeter. Ukurannya berbeda dengan genus virus pandora lainnya yang lebih kecil dengan ukuran umumnya sekitar 50 hingga 100 nanometer.
Selain memiliki ukuran yang besar, virus pandora juga memiliki ukuran DNA super yakni 2.500 gen dibanding dengan sepuluh gen yang biasa terdapat dalam virus kebanyakan. Sebelumnya, dunia mikrobiologi telah menemukan Mimivirus dengan ukuran 0,7 mikron dan menjadi virus ukuran besar pertama yang ditemukan.
Penulis studi Jean-Michel Claverie, seorang ahli mikrobiologi di Universita Aix-Marseille, Prancis, dan seorang ahli mikrobiologi Chantal Abergel yang terlibat dalam penelitian ini, mengungkapkan, menyusul temuan tersebut, para ilmuwan memburu virus raksasa dalam endapan air. Dan benar saja mereka menemukan dua jenis, pertama Pandoravirus salinus, dari Sungai Tunquen di Chile, dan Pandoravirus dulcis dari kolam air tawar dekat Melbourne, Australia.
"Menemukan virus jenis baru yang sangat berbeda dari yang pernah ada, meski cuma sekali dalam kurun waktu 50 tahun merupakan penemuan yang besar," kata Chantal Abergel.
Virus pandora baru ditemukan sekarang karena sebelumnya banyak ilmuwan yang masih menganggap bahwa semua virus berukuran kecil. "Ketika orang-orang melihat ke dalam sel dan mereka melihat sesuatu yang tidak memiliki dimensi yang tepat atau tidak memiliki aset biasa atau geometri, mereka tidak berpikir itu virus, mereka pikir itu merupakan beberapa jenis bakteri," kata Claverie.
Virus pandora sendiri telah ditemukan 13 tahun yang lalu. Tetapi para ilmuwan tidak memahami apa yang mereka lihat dan tidak mengira bahwa objek tersebut adalah virus. Virus pandora memiliki cara reproduksi yang aneh dan berbeda dari virus kebanyakan. Jika kebanyakan virus memulai sel baru dengan membangun "kotak" kosong dan mengisinya dengan DNA dari waktu ke waktu, virus pandora melakukan kedua proses pada saat yang sama dalam proses yang disebut oleh tim penelitian sebagai "merajut:"
Perbedaan lain yang paling mencolok adalah 93 persen dari 2.500 gen virus pandora tidak dapat ditelusuri keturunannya di alam. Dengan kata lain, mereka benar-benar asing bagi kita. Gen asing tersebut memberikan bukti "keberadaan kontroversial domain keempat kehidupan" --di samping bakteri, archaea, dan eukaryota.
Virus ini juga tidak berbahaya bagi manusia, malah memberikan keuntungan karena mengatur fitoplankton laut yang memproduksi setengah dari oksigen bagi planet kita dan juga membentuk basis rantai makanan. Secara keseluruhan, tim menyimpulkan dengan, penemuan virus menunjukkan selama ini pengetahuan dalam dunia mikrobiologi masih minim.
(Christine Dell'Amore National Geographic News) dalam NATGEO INDONESIA (http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/ditemukan-virus-terbesar-yang-pernah-ada)
Minggu, 18 November 2012
ANALISIS DAMPAK PENINGKATAN STATUS PELABUHAN DARI TIPE C (PPP) KE TIPE B (PPS) TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN PENDAPATAN NELAYAN (Studi Kasus di Pelabuhan Perikanan Karangantu, Banten)
ANALISIS DAMPAK PENINGKATAN STATUS
PELABUHAN DARI TIPE C (PPP) KE TIPE B (PPS) TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN PENDAPATAN
NELAYAN
(Studi
Kasus di Pelabuhan Perikanan Karangantu, Banten)
Skripsi
Diajukan Sebagai
Bagian Persyaratan
Memperoleh Gelar
Sarjana S-1 Perikanan pada
Bidang Kajian
Penangkapan Ikan
Brilyan Hidayat
Purnomo
4443091064
![]() |
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG
TIRTAYASA
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT atas limpah rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga
penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Dampak Peningkatan
Status Pelabuhan Dari Tipe C (PPP) Ke Tipe B (PPS) Terhadap Pendapatan Nelayan
(Studi Kasus di Pelabuhan Perikanan Karangantu, Banten)”.
Pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan rasa terimakasih yang mendalam kepada :
1.
Bapak H. Suherna ,SP.,Msi selaku Dekan Fakultas
Pertanian.
2.
Bapak Dr. Mustahal selaku Ketua Jurusan Perikanan.
3.
Bapak Adi Susanto selaku dosen pembimbing yang dengan
sabar dan ikhlas memberikan bimbingan, pengarahan serta dorongan moril sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan.
4.
Ayah, Ibu, kakak dan adik yang telah memberikan do’a
dan dukungannya.
5.
Teman-teman di Fakultas Pertanian pada umumnya dan di Jurusan
Perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada khususnya atas saran dan
motivasi yang telah diberikan.
6.
Teman-teman seangkatan yang mengambil Bidang Kajian
Perikanan Penangkapan Ikan , atas saran, dukungan serta kerjasamanya selama
kuliah dan penelitian serta semua pihak yang secara langsung maupun tidak
langsung ikut membantu dalam proses penelitian ini.
Penulis
menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Penulis berharap semoga karya
tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada
umumnya, Amin Ya Rabbal Alamin
Serang,
10 November 2012
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
BAB I. PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1
Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2
Perumusan Masalah............................................................................. 1
1.3 Tujuan Penelitian................................................................................. 2
1.4 Manfaat Penelitian............................................................................... 3
1.5 Hipotesis Penelitian............................................................................. 3
1.6 Kebaruan / Novelty.............................................................................
3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 4
2.1
Pelabuhan Perikanan............................................................................ 4
2.2 Pengembangan Pelabuhan................................................................... 6
BAB III METODOLOGI............................................................................ 8
3.1
Waktu dan Tempat.............................................................................. 8
3.2
Metode Penelitian................................................................................ 8
3.3 Metode Pengumpulan Data................................................................. 8
3.4 Metode Analisis Data.......................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 10
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Indonesia
merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang garis pantai lebih dari 81.000 km
serta lebih dari 17.508 pulau dan luas
laut sekitar 3,1 juta Km² sehingga wilayah pesisir dan lautan Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan
dan keanekaragaman hayati (biodiversity)
laut terbesar di dunia dengan memiliki ekosistem pesisir seperti mangrove, terumbu karang
(coral reefs) dan padang lamun (sea grass beds).
Dengan adanya potensi sumberdaya
alam yang melimpah dan menakjubkan yang dimiliki Indonesia sudah semestinya
didukung dengan system pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam terutama dalam
pemanfaatan dan pengeloaan sumberdaya alam laut yang sesuai dan santun guna
membangun perekonomian yang mandiri.
Hal tersebut didukung dari factor
geografis Indonesia yang merupakan Negara kepulauan terbesar dan memiliki luas
laut sekitar 3,1 juta Km² sehingga diharapkan dengan system pengelolaan dan
manajemen yang baik serta dukungan
sarana dan prasarana yang memadai dapat membantu taraf ekonomi masyarakat
bangsa Indonesia, terutama yang berhubungan langsung dengan pemanfaatan sumber
daya alam laut (nelayan, pembudidaya ikan laut, petani rumput laut, penyedia
jasa transfortasi, dsb).
1.2
Perumusan
Masalah
Salah
satu aktivitas utama di wilayah pesisir adalah aktivitas pelabuhan sebagai
sarana pendukung transportasi dan aktivitas lainnya. Secara prinsip hubungan
kegiatan pembangunan oleh manusia di laut tidak dapat dipisahkan dengan daerah
pesisir bahkan di darat seluruhnya. Pada dasarnya laut sebagai area eksploitasi
dan di darat terjadi proses nilai tambahnya. Dalam konteks ekonomi keruangan antara
laut dan pantai bahkan kota-kota pantai secara ekonomi menyatu, bahkan bagi
sektor pelabuhan akan tergantung tidak hanya kepada wilayah atau ruang kelautan
sebagai wahana transportasi saja, namun tergantung pula dengan sistem kota-kota
dan region yang mendukungnya, karena fungsi pelabuhan tergantung kepada
produk-produk yang akan diekspor dan diimport maupun manusia yang akan
melakukan perjalanan dari dan menuju suatu wilayah.
Pada dasarnya pembangunan dan
pengembangan pelabuhan perikanan yang telah dilakukan, dalam hal ini membahas
pengembangan pelabuhan Karangatu – Provinsi Banten merupakan salah satu tindak
lanjut dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan merupakan hasil dari pembahasan
pengembangan pelabuhan perikanan Nusantara Karangantu antara Menteri Kelautan
dan Perikanan RI Syariep Cicip Sutardjo dengan Gubernur Banten Ratu Atut
Chosiyah di kantor KKP RI. Tujuan dengan peningkatan status pelabuhan tersebut
nantinya akan berperan sebagai pusat pengembangan usaha perikanan dan pusat
pertumbuhan ekonomi berbasis perikanan.
Seyogyanya dalam setiap pembangunan
terutama dalam hal ini pengembangan pelabuhan perikanan dapat memberikan
manfaat atau dampak positif terhadap kelangsungan social ekonomi (peningkatan
pendapatan) dan lingkungan pesisir, dimana lingkungan pesisir ini nantinya akan
jadi korban demi menunjang pertumbuhan ekonomi tersebut. Pasalnya, setelah
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Karangantu ditingkatkan statusnya menjadi
Pelabuhan Perikanan Nusantara hingga saat ini infrastruktur dan prasarana serta
sarana penunjang pelabuhan tersebut belum tercapai. Sampai saat ini penelitian
tentang bagaimana dampak pembangunan terutama pengembangan Pelabuhan Perikanan
Karangantu terhadap kondisi social ekonomi masyarakat sekitar dan dampak
kerusakan lingkungan yang terjadi.
1.3
Tujuan
Penelitian
Tujuan
dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis dampak dilakukannya
pembangunan pengembangan pelabuhan perikanan pantai Karangantu, Serang terhadap
perubahan social ekonomi (pendapatan) dan kerusakan lingkungan yang terjadi,
sehingga akan diketahui kelompok masyarakat yang utama yang mendapatkan manfaat
dari adanya pembangunan pengembangan Pelabuhan Perikanan Pantai di Karangantu –
Serang menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara.
1.4
Manfaat
Penelitian
Manfaat
utama yang didapat dari penelitian tentang Analisis Dampak Penigkatan Status
Pelabuhan Dari Tipe C (PPP) ke Tipe B (PPN) Terhadap Perubahan Lingkungan dan
Pendapatan Nelayan (studi kasus di Pelabuhan Karangantu, Banten) untuk
mengetahui studi kelayakan pembangunan tersebut dengan didukung dari manfaat
perubahan social ekonomi (pendapatan) dan kerusakan lingkungan yang terjadi,
sehingga apakah ada kelompok masyarakat yang utama yang mendapat keuntungan.
1.5
Hipotesis
Penelitian
Hipotesis
utama penelitian ini adalah bahwa dengan adanya pengembangan PPP menjadi PPN
Karangantu telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Pelabuhan
Karangantu. Diduga dengan adanya pengembangan PPP Karangantu akan mempengaruhi
tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir dan lingkungan perairan Karangantu.
1.6
Kebaruan /
Novelty
Kebaruan
dari penelitian ini adalah membuat model pengelolaan pelabuhan perikanan yang
tepat guna sehingga diharapkan dalam pengembengannya dapat dapat dilaksanakan
secara efektif dan efisien secara menyeluruh.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Pelabuhan
Perikanan
Pelabuhan
perikanan merupakan kawasan pengembangan industri perikanan, karena pembangunan pelabuhan
perikanan di suatu daerah atau wilayah merupakan embrio pembangunan
perekonomian. Keberadaan pelabuhan perikanan dalam arti fisik, seperti
kapasitas pelabuhan harus mampu mendorong kegiatan ekonomi lainnya sehingga
pelabuhan perikanan menjadi suatu kawasan pengembangan industri perikanan
(Yusuf et al., 2005).
Berdasarkan Peraturan Menteri
Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia NOMOR PER.50/MEN/2011 pelabuhan
perikanan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya
(termasuk di perairan umum daratan)
dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang
dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh dan/atau
bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan
kegiatan penunjang perikanan yang memiliki fungsi:
a.
Pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan dan kapal pengawas pengawas perikanan;
b. Pelayanan
bongkar muat;
c. Pelaksanaan
pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan;
d. Pemasaran dan
distribusi ikan;
e. Pengumpulan
data tangkapan dan hasil perikanan;
f. Pelaksanaan
penyuluhan dan pengembangan masyarakat perikanan;
g. Pelaksanaan
kegiatan operasional kapal perikanan;
h. Pelaksanaan
pengawasan dan pengendalian sumberdaya ikan;
i. Pelaksanaan
kesyahbandaran;
j. Pelaksanaan
fungsi karantina ikan;
k. Publikasi
hasil riset kelautan dan perikanan;
l.
Pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari atau pemantauan wilayah darat dan wisata perairan darat untuk PUD;
m.
Pengendalian lingkungan (kebersihan, keamanan dan ketertiban/k3; kebakaran; dan pencemaran);
n. Adapun pelabuhan perikanan diklasifikasikan
kedalam 4 (empat) klas, yaitu:
1) Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS);
2) Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN);
3) Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP);
4) Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).
Didalam pelaksanaan fungsi dan
peranannya, pelabuhan perikanan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Kapasitas
dan jenis fasilitas yang ada di suatu pelabuhan perikanan umunnya akan
menentukan skala atau tipe dari suatu pelabuhan dan akan berkaitan pula dengan
skala produksi ikannya. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan (1994), ada beberapa kegiatan perikanan yang sangat
bergantung kepada fasilitas dan pelayanan pelabuhan perikanan, kegiatan
tersebut secara terperinci adalah :
1) Produksi :
bahwa pelabuhan perikanan sebagai tempat para nelayan untuk melakukan
kegiatan-kegiatan produksinya, mulai dari memenuhi kebutuhan perbekalan untuk
menangkap ikan di laut sampai membongkar hasil tangkapannya.
2) Pengolahan :
bahwa pelabuhan perikanan menyediakan sarana-sarana yang dibutuhkan untuk
mengolah hasil tangkapannya.
3) Pemasaran :
bahwa pelabuhan perikanan pusat pengumpulan dan tempat awal pemasaran hasil
tangkapannya.
Peran pelabuhan perikanan adalah
sebagai simpul moda transportasi
perikanan tangkap dalam menunjang dan menggerakkan perekonomian utamanya
sebagai gerbang dari suatu wilayah yang merupakan tempat embarkasi dan
debarkasi bagi komoditi hasil laut laut. Pelabuhan perikanan juga merupakan
prasarana yang dapat mendukung dalam meningkatkan pendapatan nelayan dan
sekaligus mendorong investasi di bidang perikanan. Fungsi pelabuhan perikanan
adalah sebagai pusat pengembangan masyarakat nelayan, tempat berlabuh kapal
kapal perikanan, tempat pendaratan ikan hasil tangkapan, tempat untuk
memperlancar kegiatan kapal-kapal perikanan, pusat pemasaran dan distribusi
ikan hasil tangkapan, dan tempat pelaksanaan penyuluhan. Pelabuhan perikanan sangat diperlukan untuk menunjang
aktifitas perikanan dalam kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan
yang mencakup kegiatan pra produksi, produki, pengolahan, pemasaran dan
pengawasan. Sasaran utama pembangunan pelabuhan perikanan adalah meningkatkan
taraf hidup nelayan, dan sebagai pusat pengembangan ekonomi masyarakat perikanan.
Sasaran tersebut menuntut peningkatan produksi dan produktivitas dari setiap jenis
usaha perikanan. Menurut Lubis et al. 2005, “Kontribusi setiap jenis usaha
perikanan tersebut dapat dibuktikan oleh kuatnya upaya peningkatan nilai tambah
produk perikanan laut di pasar dunia dan upaya pemerintah Indonesia untuk
mengingkatkan ekspor ke negara-negara maju dalam rangka memperoleh devisa yang
lebih besar dan semakin meningkatnya kebutuhan pangan (protein hewani) di pasar
nasional”. Di sektor perikanan laut, peningkatan tersebut dilaksanakan melalui
motorisasi atau modernisasi perahu layar dan kapal perikanan, penggunaan alat
tangkap yang lebih produktif serta perluasan daerah penangkapan (fishing
ground) yang mengarah kepada pemanfaatan kawasan nusantara dan zona ekonomi
ekslusif (ZEE).
2.2
Pengembangan
Pelabuhan
Pengembangan suatu pelabuhan perikanan
harus direncanakan sesuai dengan pola pengembangan yang telah ditentukan.
Menurut Lubis (2002), pola pengembangan suatu pelabuhan perikanan adalah acuan
awal mengembangkan suatu pelabuhan perikanan. Pola pengembangan pelabuhan
perikanan diperlukan agar pembangunan dan operasionalnya sesuai dengan fungsi
dan tujuan pengembangannya. Penyusunan pola pengembangan pelabuhan harus ada
didalam triptyque portuaire untuk
pelabuhan perikanan, yakni ketrkaitan antara aspek wilayah prodeksi (foreland),
wilayah distribusi (hinterland) dan aspek pelabuhan perikanan (fishing port)
agar fungsi dan tujuannya bias dicapai.
Pembangunan pelabuhan perikanan
dimaksudkan untuk menjadi penggerak utama perekonomian masyarakat nel ayan,
sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi wilayah dan kesejahteraan
masyarakat nelayan. Untuk itu pengembangan pelabuhan perikanan harus didasarkan
pada : a) adanya ketersediaan sumber daya ikan secara berkesinambungan; b)
hasil tangkapan yang didaratkan haruslah memiliki nilai ekonomi tinggi dan
industri pengolahan yang memberikan nilai tambah besar; c) keterlibatan
masyarakat dalam prose perencanaan dan pemanfaatannya, sehingga memberikan
manfaat yang sebesar besarnya bagi masyarakat; d) keterkaitan antar sektor di mana keberadaan
PP/PP memberikan multiplier effect
sehingga dapat mengembangkan ekonomi wilayah.
III.
METODOLOGI
3.1
Waktu dan
Tempat
Waktu penelitian mulai dari tahap
perencanaan, pelaksanaan penelitian hingga tabulasi dan analisis data dilakukan
dalam periode waktu bulan Januari hingga Maret 2012. Lokasi penelitian bertempat di Pelabuhan Perikanan
Nusantara Karangantu, area pemukiman nelayan yang berada disekitar pelabuhan
tersebut serta wilayah pesisir pelabuhan.
3.2
Metode
Penelitian
Penelitian
ini bersifat studi kasus yang dilakukan pada masyarakat di sekitar area
Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu – Serang. Penelitian ini untuk
mempelajari dampak pembangunan pengembangan pelabuhan perikanan terhadap
kondisi perubahan lingkungan dan social ekonomi masyarakat dengan tolak ukur tingkat
keberlangsungan mata pencaharian, kesehatan serta tingkat pendapatan masyarakat
sebagai responden sebelum dan setelah adanya peningkatan status pelabuhan yang
diikuti dengan meningkatnya sarana dan prasarana. Sebagai studi kasus,
kesimpulan yang dihasilkan terbatas pada komunitas yang diteliti. Untuk lingkup
kehidupan social yang lebih luas, kesimpulan tersebut hanya bertaku sebagai
proposisi hipotetis.
3.3
Metode
Pengumpulan Data
Metode
pengumpulan data yang dilakukan menggunakan instrument wawancara dengan
pendekatan survey terhadap masyarakat yang ada di sekitar Pelabuhan Perikanan
Nusantara Karangantu. Tekhnik pengumpulan data primer dilakukan dengan
peninjauan dan pengamatan langsung (observasi) disekitar pelabuhan perikanan.
Data sekunder berupa kondisi geografis, demografis, keadaan social ekonomi
masyarakat dilokasi dikumpulkan dari instansi terkait yaitu Dinas Perikanan dan
Kelautan Prov. Banten, PPN Karangantu, ormas nelayan, akademisi serta instansi
lain yang terkait dalam penelitian ini.
Data yang dikumpulkan mencakup
dampak adanya pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu terhadap
social ekonomi masyarakat dan lingkungan perairan Karangantu. Kondisi social
ekonomi masyarakat yang diamati mencakup perubahan tingkat pendapatan jika
dibandingkan antara sebelum dan sesudah adanya perubahan status pelabuhan
perikanan. Penetapan responden untuk masing-masing kelompok masyarakat tersebut
dilakukan dengan cara sengaja (purposive sampling) dengan kriteris bahwa mereka
memiliki mata pencaharian sebagai nelayan Karangantu dan atau disekitar pelabuhan.
Kondisi ekonomi tersebut digambarkan
melalui total pendapatan masing-masing kelompok masyarakat (nelayan, pedagang,
pengolah ikan, buruh angkut ikan, padagang asongan, dsb) sebelum dan setelah
adanya perubahan status pelabuhan yang diikuti dengan peningkatan sarana dan
prasarana peabuhan perikanan. Pendapatan total terdiri atas pendapatan rata –
rata perbulan pada saat sebelum dan setelah adanya peningkatan status pelabuhan
perikanan.
3.4
Metode
Analis Data
Metode yang digunakan dalam analisis
data menggunakan Uji Kruskal Wallis, dimana
yang diuji adalah pendapatan dari berbagai kelompok masyarakat dengan kondisi
masing-masing sebeluam dan sesudah adanya peningkatan status pelabuhan. Menurut
Siegel 1997, hasil yang diperoleh dari uji ini dapat menunjukan ada atau
tidaknya perbedaan rata-rata nilai pendapatan diantara kelompok masyarakat
sekitar pelabuhan perikanan pada satu kelompok (group) data tertentu. Group
tersebut menunjukan waktu sebelum dan sesudah adanya pembangunan dan
pengembangan pelabuhan perikanan. Metode lain yang digunakan menggunakan Uji t,
dimana uji ini dilakukan untuk mengetahui dampak pembangunan pelabuhan terhadap
pendapatan masyarakat sekitarnya. Setelah data terkumpul dilakukan pengujian
menggunakan perangkat computer dan dianalisis menggunakan program statistic
SYSTAT9.
Untuk metode analisis yang digunakan
dalam penentu perubahan lingkungan menggunakan teknik analisis deskriptif
kualitatif dengan menggunakan quisioner kepada masyarakat sebagai bahan masukan
dalam pengolahan analisis sesuai dengan aspek-aspek lingkungan yang akan dikaji
dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Perikanan. 1994. Petunjuk
Teknis Pengelolaan Pelabuhan Perikanan. Direktorat Bina
Prasarana. Direktorat Jenderal
Perikanan. Departemen Pertanian.
Jakarta.
Lubis E dan
Sumiati. 2005. Pengembangan Industri Pengolahan Ikan Ditinjau dari Produksi Hasil Tangkapan di PPN Palabuhanratu.
Jurnal Marine Fisheries Vol.2 No.1 Mei 2011. Bogor.
Peraturan
Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.50/Men/2011 Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alikasi Khusus Bidang Kelautan Dan Perikanan 2012.
Siegel. S.
1997. Statistik Non Parametrik
Untuk IImu-lImu Sosial. PT Gramedia. Jakarta.
Yusuf H,
Moedikdjo K, Saeni MS, Nasution LI, 2005. Dampak
Pembangunan Pelabuhan Perikanan terhadap
Penyerapan Tenaga Kerja dan Pendapatan Masyarakat (Studi Kasus di
Pelabuhan Perikanan Lempasing
Bandar Lampung). Buletin Ekonomi Perikanan. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Departemen Sosial
Ekonomi Perikanan-Kelautan. Vol
VI Nomor 1. hlm 57-64.
Kamis, 17 Mei 2012
Laporan Praktikum Mata Kuliah Fisio Reproduksi Pengambilan Hipofisa Dan Pengawetan
Laporan
Praktikum Mata Kuliah Fisio Reproduksi
Pengambilan
Hipofisa Dan Pengawetan
disusun
oleh
Brilyan
Hidayat Purnomo
4443091064
JURUSAN
PERIKANAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SULTAN AGENG TIRTAYASA
2012
----------
Kata Pengantar
Puji
syukur atas kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga laporan praktikum Fisio Reproduksi yang berjudul “Seksualitas
Ikan” ini dapat diselesaikan.
Laporan
ini disusun berdasarkan praktikum yang sebelunya telah dilaksanakan di
Laboratorium Pengolahan Hasil Perairan Jurusan Perikanan Universitas Sultan
Ageng Tirtayasa dengan menggunakan dua jenis preparat. Yakni ikan mas dan ikan
lele. Ke-2 jenis ikan-ikan tersebut diamati secara seksama untuk mendapatkan
hasil seobjektif mungkin.
Tidak
lupa saya ucapkan terima kasih kepada para assisten praktikum biologi perikanan
yang telah memberikan arahan ketika melakukan praktikum tersebut.
Tidak
ada gading yang tak retak oleh karena itu penulis menyadari bahwa laporan
praktikum ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan dalam penulisan
untuk masa akan datang. Semoga laporan ini bermanfaat dan berguna.
.
Serang,
2 Mei 2012
Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar............................................................................................... 1
Daftar Isi........................................................................................................ 2
BAB I. Pendahuluan...................................................................................... 3
1.1
Latar Belakang.................................................................................... 3
1.2
Tujuan.................................................................................................. 4
BAB II Hasil Praktikum................................................................................ 5
Daftar Pustaka................................................................................................ 8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembenihan
adalah salah satu bentuk unit pengembangan budidaya ikan. Pembenihan
inimerupakan salah satu titik awal untuk memulai budidaya. Ikan yang akan
dibudidayakan harusdapat tumbuh dan berkembang biak agar kontinuitas produksi
budidaya dapat berkelanjutan.Untuk dapat menghasilkan benih yang bermutu dalam
jumlah yang memadai dan waktu yangtepat mesti diimbangi dengan pengoptimalan
penanganan induk dan larva yang dihasilkanmelalui pembenihan yang baik dan
berkualitas.
Pembenihan dengan ikut campur tangan manusiaatau
fertilisasi buatan sudah dapat dilakukan pada berbagai jenis ikan, khususnya
bagi ikan yang penjualannya tinggi di pasaran diantaranya komoditas ikan
air tawar seperti lele, nila, guramidan lain-lain.Lele merupakan jenis ikan konsumsi
air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin.Habitatnya di sungai dengan
arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenangair.
Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak
mencari makanan pada malam hari. Padasiang hari, ikan lele
berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada
musim penghujan ( Suyanto, 1991). Sehingga pemijahan ikan ini terkendala
akanmusim, untuk itu pemenuhan akan bibit ikan lele yang bermutu dan sesuai
dengan waktu akansulit terpenuhi.Salah satu cara mengatasi masalah di atas
dapat dengan pemijahan buatan pada ikan lele.Pemijahan buatan dapat dengan
pemberian hormon. Pemberian hormon ini akan membantufertilisasi ikan tanpa
perlu terkendala musim sehingga dapat dipijahkan kapanpun sesuaikeinginan.
Oleh karena itu praktikum tekhnologi pembenihan
ikan ini sangat diperlukan untuk menambah wawasan mahasiswa dalam
mengetahui teknik-teknik dan hal-hal yang perludiperhatikan dalam pembenihan
ikan. mulai dari seksualitas primer dan sekunder ikan,
teknik pembuatan ekstraksi kelenjar pituitary, teknik fertilisasi
buatan hingga pada penanganan dan perkembangan telur.
1.2 Tujuan
Adapun
tujuan dari praktikum diharapkan agar praktikan dapat mengambil kelenjar
hipofisa yang terdapat di dalam kepala ikan preparat dengan baik dan benar
serta mengawetkannya.
BAB II
HASIL PRAKTIKUM
Hipofisa
adalah kelenjar endokrin yang terletak dalam sella tursika, yaitu lekukan dalam
tulang sfenoid. Kelenjar hipofisa paling tidak menghasilkan tujuh hormon yaitu
GH, ACTH, TSH, LTH, FSH, LH, ICSH, MSH. (budiyanto, 2002) Hipofisa terletak
dibawah otak, jadi untuk mengambil kelenjar hipofisa langkah pertama yang harus
diambil adalah mengeluarkan otak
Hipofisasi
merupakan salah satu teknik untuk mempercepat pemijahan ikan melalui injeksi
kelenjar hipofisa. Hipofisasi dapat dilakukan dengan menyuntikkan suspensi
kelenjar hipofisa pada tubuh ikan yang akan dibiakkan. Kelenjar hipofisa ini
terletak di bawah otak sebelah depan, mengandung hormon gonadotropin yang berfungsi
untuk mempercepat ovalusi dan pemijahan (Milne, 1999).
Kelenjar
hipofisa mempunyai peran yang sangat penting, dimana kelenjar yang dihasilkan
berupa hormon yang berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangbiakan.
Kerusakan dalam pengambilan ekstrak hormon mengakibatkan hormon tersebut tidak
berfungsi. Hormon yang berpengaruh dalam pemijahan ikan adalah gonadotropin
yang berfungsi dalam pematangan gonad dan mengontrol ekskresi hormon yang
dihasilkan oleh gonad (Hurkat dan Mathur, 1986). Menurut Budiyanto (2002),
Hipofisa adalah kelenjar endokrin yang terletak dalam sella tursika, yaitu
lekukan dalam tulang sfenoid. Kelenjar hipofisa paling tidak menghasilkan tujuh
hormon yaitu GH, ACTH, TSH, LTH, FSH, LH, ICSH, MSH. Hipofisa terletak dibawah
otak, jadi untuk mengambil kelenjar hipofisa langkah pertama yang harus diambil
adalah mengeluarkan otak.
Menurut
Sumantadinata (1983), ikan betina matang kelamin dicirikan dengan perut yang
relatif membesar dan lunak bila diraba, serta dari lubang genital keluar cairan
jernih kekuningan, naluri gerakan lambat, postur tubuh gemuk, warna tubuh
kelabu kekuningan dan lubang kelamin berbentuk bulat telur dan agak melebar
serta agak membengkak. Ciri ikan jantan yang sudah matang kelamin antara lain
mudah mengeluarkan milt perutnya diurut, naluri gerakan lincah, postur tubuh
dan perut raming warna tubuh kehijauan dan kadang gelap, lubang kelamin agak
menonjol serta sirip dada kasar dan perutnya keras.
Kelebihan dan Kekurangan Hipofisasi
Kelebihan
dari hormon hipofisa adalah hormon ini bisa disimpan dalam waktu lama sampai
dua tahun. Penggunaan hormon ini juga relatif mudah (hanya membutuhkan sedikit
alat dan bahan), tidak membutuhkan refrigenerator dalam penyimpanan, dosis
dapat diperkirakan berdasar berat tubuh donor dan resepien, adanya kemungkinan
terdapat hormon hormon lain yang memiliki sifat sinergik.
Kekurangan
dari teknik hipofisasi adalah adanya kemungkinan terjadi reaksi imunitas
(penolakan) dari dalam tubuh ikan terutama jika donor hipofisa berasal dari ikan
yang berbeda jenis, adanya kemungkinan penularan penyakit, adanya hormon hormon
lain yang mungkin akan merubah atau malah menghilangkan pengaruh. Efek dosis
yang lebih tinggi terbukti akan menyebabkan makin cepatnya masa laten
Pemijahan. Hal ini diduga berhubungan dengan meningkatnya konsentrasi 17 α, 20
β.
Dalam
pengawetan kelenjar hipofisa ada dua metode yang biasa dilakukan dalam
mengawetkan kelenjar hipofisa yaitu metode kering dan metode basah. Metode
kering dilakukan dengan menggunakan larutan aseton. Kelenjar hipofisa direndam
dalam larutan aseton selama 8-12 Jam, kemudian larutan aseton dibuang dan
kelenjar hipofisa dikeringkan lalau disimpan. (Susanto, 2001)
Metode
basah digunakan dengan larutan alkohol pekat. Kelenjar hipofisa dimasukan dalam
larutan alkohol selama 24 jam. Dalam proses perendaman alkohol diganti selama
2-3 kali. Setelah 24 jam kelenjar hipofisa dibiarkan terendam larutan alkohol
sampai akan digunakan. (susanto, 2001)
Dalam
aplikasi di lapangan, pengambilan kelenjar hipofisa pada ikan lele di utamakan
yang berjenis kelamin jantan dengan pembedahan pada bagian kepala.
Daftar Pustaka
Budiyanto. 2002. Pengaruh Penyuntikan Ekstraks
Kelenjar Hipofisa Ikan Patin Terhadap
Laju Pertumbuhan Harian Ikan Koi yang Dipelihara Dalam Sistem Resirkulasi. (Skripsi tidak
dipublikasikan). Bogor: Program Studi
Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikananan dan Ilmu Kelautan
Hurkat dan Mathur. 1986. Text Book of Animal
Physiology. S. Clark Ltd, New Delhi.
Milne, L.J. 1999. Animal Zoology. Prentice Hall
Inc, New Jersey.
Susanto, H. 2001. Teknik Kawin Suntik Ikan
Ekonomis. Jakarta : Penebar Swadaya
Sumantadinata, K. 1983. Pengembangan Ikan-Ikan
Pemeliharaan di Indonesia. Sastra
Budaya, Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)