Woyooo_Selamat Datang Brada 'n Sista Di Blog Willy Archipelago_Willy-Archipelago.Blogspot.com_Semoga Bermanfaat Untuk Anda_Salam Bahari

Minggu, 18 November 2012

ANALISIS DAMPAK PENINGKATAN STATUS PELABUHAN DARI TIPE C (PPP) KE TIPE B (PPS) TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN PENDAPATAN NELAYAN (Studi Kasus di Pelabuhan Perikanan Karangantu, Banten)


ANALISIS DAMPAK PENINGKATAN STATUS PELABUHAN DARI TIPE C (PPP) KE TIPE B (PPS) TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN PENDAPATAN NELAYAN
(Studi Kasus di Pelabuhan Perikanan Karangantu, Banten)





Skripsi
Diajukan Sebagai Bagian Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Perikanan pada
Bidang Kajian Penangkapan Ikan



Brilyan Hidayat Purnomo
4443091064




 















JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2012






KATA PENGANTAR


            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpah rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Dampak Peningkatan Status Pelabuhan Dari Tipe C (PPP) Ke Tipe B (PPS) Terhadap Pendapatan Nelayan (Studi Kasus di Pelabuhan Perikanan Karangantu, Banten)”.
            Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang mendalam kepada :
1.      Bapak H. Suherna ,SP.,Msi selaku Dekan Fakultas Pertanian.
2.      Bapak Dr. Mustahal selaku Ketua Jurusan Perikanan.
3.      Bapak Adi Susanto selaku dosen pembimbing yang dengan sabar dan ikhlas memberikan bimbingan, pengarahan serta dorongan moril sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
4.      Ayah, Ibu, kakak dan adik yang telah memberikan do’a dan dukungannya.
5.      Teman-teman di Fakultas Pertanian pada umumnya dan di Jurusan Perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada khususnya atas saran dan motivasi yang telah diberikan.
6.      Teman-teman seangkatan yang mengambil Bidang Kajian Perikanan Penangkapan Ikan , atas saran, dukungan serta kerjasamanya selama kuliah dan penelitian serta semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung ikut membantu dalam proses penelitian ini.
           
            Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya, Amin Ya Rabbal Alamin

                                                                        Serang, 10 November 2012

                                                                                        Penulis

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
BAB I. PENDAHULUAN........................................................................... 1
     1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1
     1.2 Perumusan Masalah............................................................................. 1
     1.3 Tujuan Penelitian................................................................................. 2
     1.4 Manfaat Penelitian............................................................................... 3
     1.5 Hipotesis Penelitian............................................................................. 3
     1.6 Kebaruan / Novelty............................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 4
     2.1 Pelabuhan Perikanan............................................................................ 4
     2.2 Pengembangan Pelabuhan................................................................... 6
BAB III METODOLOGI............................................................................ 8
     3.1 Waktu dan Tempat.............................................................................. 8
     3.2 Metode Penelitian................................................................................ 8
     3.3 Metode Pengumpulan Data................................................................. 8
     3.4 Metode Analisis Data.......................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 10




I.                   PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
            Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan    panjang garis pantai lebih dari 81.000 km serta lebih dari 17.508 pulau dan  luas laut sekitar 3,1 juta Km² sehingga wilayah pesisir dan lautan  Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan dan keanekaragaman  hayati (biodiversity) laut terbesar di dunia dengan memiliki ekosistem  pesisir seperti mangrove, terumbu karang (coral reefs) dan padang lamun (sea grass beds).
            Dengan adanya potensi sumberdaya alam yang melimpah dan menakjubkan yang dimiliki Indonesia sudah semestinya didukung dengan system pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam terutama dalam pemanfaatan dan pengeloaan sumberdaya alam laut yang sesuai dan santun guna membangun perekonomian yang mandiri.
            Hal tersebut didukung dari factor geografis Indonesia yang merupakan Negara kepulauan terbesar dan memiliki luas laut sekitar 3,1 juta Km² sehingga diharapkan dengan system pengelolaan dan manajemen  yang baik serta dukungan sarana dan prasarana yang memadai dapat membantu taraf ekonomi masyarakat bangsa Indonesia, terutama yang berhubungan langsung dengan pemanfaatan sumber daya alam laut (nelayan, pembudidaya ikan laut, petani rumput laut, penyedia jasa transfortasi, dsb).

1.2              Perumusan Masalah
            Salah satu aktivitas utama di wilayah pesisir adalah aktivitas pelabuhan sebagai sarana pendukung transportasi dan aktivitas lainnya. Secara prinsip hubungan kegiatan pembangunan oleh manusia di laut tidak dapat dipisahkan dengan daerah pesisir bahkan di darat seluruhnya. Pada dasarnya laut sebagai area eksploitasi dan di darat terjadi proses nilai tambahnya. Dalam konteks ekonomi keruangan antara laut dan pantai bahkan kota-kota pantai secara ekonomi menyatu, bahkan bagi sektor pelabuhan akan tergantung tidak hanya kepada wilayah atau ruang kelautan sebagai wahana transportasi saja, namun tergantung pula dengan sistem kota-kota dan region yang mendukungnya, karena fungsi pelabuhan tergantung kepada produk-produk yang akan diekspor dan diimport maupun manusia yang akan melakukan perjalanan dari dan menuju suatu wilayah.
            Pada dasarnya pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan yang telah dilakukan, dalam hal ini membahas pengembangan pelabuhan Karangatu – Provinsi Banten merupakan salah satu tindak lanjut dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan merupakan hasil dari pembahasan pengembangan pelabuhan perikanan Nusantara Karangantu antara Menteri Kelautan dan Perikanan RI Syariep Cicip Sutardjo dengan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah di kantor KKP RI. Tujuan dengan peningkatan status pelabuhan tersebut nantinya akan berperan sebagai pusat pengembangan usaha perikanan dan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis perikanan.
            Seyogyanya dalam setiap pembangunan terutama dalam hal ini pengembangan pelabuhan perikanan dapat memberikan manfaat atau dampak positif terhadap kelangsungan social ekonomi (peningkatan pendapatan) dan lingkungan pesisir, dimana lingkungan pesisir ini nantinya akan jadi korban demi menunjang pertumbuhan ekonomi tersebut. Pasalnya, setelah Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Karangantu ditingkatkan statusnya menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara hingga saat ini infrastruktur dan prasarana serta sarana penunjang pelabuhan tersebut belum tercapai. Sampai saat ini penelitian tentang bagaimana dampak pembangunan terutama pengembangan Pelabuhan Perikanan Karangantu terhadap kondisi social ekonomi masyarakat sekitar dan dampak kerusakan lingkungan yang terjadi.

1.3              Tujuan Penelitian
            Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis dampak dilakukannya pembangunan pengembangan pelabuhan perikanan pantai Karangantu, Serang terhadap perubahan social ekonomi (pendapatan) dan kerusakan lingkungan yang terjadi, sehingga akan diketahui kelompok masyarakat yang utama yang mendapatkan manfaat dari adanya pembangunan pengembangan Pelabuhan Perikanan Pantai di Karangantu – Serang menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara.


1.4              Manfaat Penelitian
            Manfaat utama yang didapat dari penelitian tentang Analisis Dampak Penigkatan Status Pelabuhan Dari Tipe C (PPP) ke Tipe B (PPN) Terhadap Perubahan Lingkungan dan Pendapatan Nelayan (studi kasus di Pelabuhan Karangantu, Banten) untuk mengetahui studi kelayakan pembangunan tersebut dengan didukung dari manfaat perubahan social ekonomi (pendapatan) dan kerusakan lingkungan yang terjadi, sehingga apakah ada kelompok masyarakat yang utama yang mendapat keuntungan.

1.5              Hipotesis Penelitian
            Hipotesis utama penelitian ini adalah bahwa dengan adanya pengembangan PPP menjadi PPN Karangantu telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Pelabuhan Karangantu. Diduga dengan adanya pengembangan PPP Karangantu akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir dan lingkungan perairan Karangantu.

1.6              Kebaruan / Novelty
            Kebaruan dari penelitian ini adalah membuat model pengelolaan pelabuhan perikanan yang tepat guna sehingga diharapkan dalam pengembengannya dapat dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien secara menyeluruh.










II.                TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Pelabuhan Perikanan
            Pelabuhan perikanan merupakan kawasan pengembangan industri  perikanan, karena pembangunan pelabuhan perikanan di suatu daerah atau wilayah merupakan embrio pembangunan perekonomian. Keberadaan pelabuhan perikanan dalam arti fisik, seperti kapasitas pelabuhan harus mampu mendorong kegiatan ekonomi lainnya sehingga pelabuhan perikanan menjadi suatu kawasan pengembangan industri perikanan (Yusuf et al., 2005).
            Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia NOMOR PER.50/MEN/2011 pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya (termasuk di perairan umum  daratan) dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan  kegiatan sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan yang memiliki fungsi:
a. Pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan dan kapal pengawas pengawas                    perikanan;
b. Pelayanan bongkar muat;
c. Pelaksanaan pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan;
d. Pemasaran dan distribusi ikan;
e. Pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan;
f. Pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat perikanan;
g. Pelaksanaan kegiatan operasional kapal perikanan;
h. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sumberdaya ikan;
i. Pelaksanaan kesyahbandaran;
j. Pelaksanaan fungsi karantina ikan;
k. Publikasi hasil riset kelautan dan perikanan;
l. Pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari atau pemantauan wilayah darat     dan wisata perairan darat untuk PUD;
m. Pengendalian lingkungan (kebersihan, keamanan dan ketertiban/k3; kebakaran;             dan pencemaran);
 n. Adapun pelabuhan perikanan diklasifikasikan kedalam 4 (empat) klas, yaitu:
1)  Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS);
2)  Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN);
3)  Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP);
4)  Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).
            Didalam pelaksanaan fungsi dan peranannya, pelabuhan perikanan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Kapasitas dan jenis fasilitas yang ada di suatu pelabuhan perikanan umunnya akan menentukan skala atau tipe dari suatu pelabuhan dan akan berkaitan pula dengan skala produksi ikannya. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan (1994), ada beberapa kegiatan perikanan yang sangat bergantung kepada fasilitas dan pelayanan pelabuhan perikanan, kegiatan tersebut secara terperinci adalah :
1) Produksi : bahwa pelabuhan perikanan sebagai tempat para nelayan untuk melakukan kegiatan-kegiatan produksinya, mulai dari memenuhi kebutuhan perbekalan untuk menangkap ikan di laut sampai membongkar hasil tangkapannya.
2) Pengolahan : bahwa pelabuhan perikanan menyediakan sarana-sarana yang dibutuhkan untuk mengolah hasil tangkapannya.
3) Pemasaran : bahwa pelabuhan perikanan pusat pengumpulan dan tempat awal pemasaran hasil tangkapannya.
            Peran pelabuhan perikanan adalah sebagai simpul  moda transportasi perikanan tangkap dalam menunjang dan menggerakkan perekonomian utamanya sebagai gerbang dari suatu wilayah yang merupakan tempat embarkasi dan debarkasi bagi komoditi hasil laut laut. Pelabuhan perikanan juga merupakan prasarana yang dapat mendukung dalam meningkatkan pendapatan nelayan dan sekaligus mendorong investasi di bidang perikanan. Fungsi pelabuhan perikanan adalah sebagai pusat pengembangan masyarakat nelayan, tempat berlabuh kapal kapal perikanan, tempat pendaratan ikan hasil tangkapan, tempat untuk memperlancar kegiatan kapal-kapal perikanan, pusat pemasaran dan distribusi ikan hasil tangkapan, dan tempat pelaksanaan penyuluhan.           Pelabuhan perikanan sangat diperlukan untuk menunjang aktifitas perikanan dalam kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan yang mencakup kegiatan pra produksi, produki, pengolahan, pemasaran dan pengawasan. Sasaran utama pembangunan pelabuhan perikanan adalah meningkatkan taraf hidup nelayan, dan sebagai pusat pengembangan ekonomi masyarakat perikanan. Sasaran tersebut menuntut peningkatan produksi dan produktivitas dari setiap jenis usaha perikanan. Menurut Lubis et al. 2005, “Kontribusi setiap jenis usaha perikanan tersebut dapat dibuktikan oleh kuatnya upaya peningkatan nilai tambah produk perikanan laut di pasar dunia dan upaya pemerintah Indonesia untuk mengingkatkan ekspor ke negara-negara maju dalam rangka memperoleh devisa yang lebih besar dan semakin meningkatnya kebutuhan pangan (protein hewani) di pasar nasional”. Di sektor perikanan laut, peningkatan tersebut dilaksanakan melalui motorisasi atau modernisasi perahu layar dan kapal perikanan, penggunaan alat tangkap yang lebih produktif serta perluasan daerah penangkapan (fishing ground) yang mengarah kepada pemanfaatan kawasan nusantara dan zona ekonomi ekslusif (ZEE).
2.2              Pengembangan Pelabuhan
            Pengembangan suatu pelabuhan perikanan harus direncanakan sesuai dengan pola pengembangan yang telah ditentukan. Menurut Lubis (2002), pola pengembangan suatu pelabuhan perikanan adalah acuan awal mengembangkan suatu pelabuhan perikanan. Pola pengembangan pelabuhan perikanan diperlukan agar pembangunan dan operasionalnya sesuai dengan fungsi dan tujuan pengembangannya. Penyusunan pola pengembangan pelabuhan harus ada didalam triptyque portuaire untuk pelabuhan perikanan, yakni ketrkaitan antara aspek wilayah prodeksi (foreland), wilayah distribusi (hinterland) dan aspek pelabuhan perikanan (fishing port) agar fungsi dan tujuannya bias dicapai.
            Pembangunan pelabuhan perikanan dimaksudkan untuk menjadi penggerak utama perekonomian masyarakat nel ayan, sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi wilayah dan kesejahteraan masyarakat nelayan. Untuk itu pengembangan pelabuhan perikanan harus didasarkan pada : a) adanya ketersediaan sumber daya ikan secara berkesinambungan; b) hasil tangkapan yang didaratkan haruslah memiliki nilai ekonomi tinggi dan industri pengolahan yang memberikan nilai tambah besar; c) keterlibatan masyarakat dalam prose perencanaan dan pemanfaatannya, sehingga memberikan manfaat yang sebesar besarnya bagi masyarakat; d)   keterkaitan antar sektor di mana keberadaan PP/PP memberikan multiplier effect  sehingga dapat mengembangkan ekonomi wilayah. 




























III.             METODOLOGI

3.1              Waktu dan Tempat
            Waktu penelitian mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan penelitian hingga tabulasi dan analisis data dilakukan dalam periode waktu bulan Januari hingga Maret 2012.  Lokasi penelitian bertempat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu, area pemukiman nelayan yang berada disekitar pelabuhan tersebut serta wilayah pesisir pelabuhan.

3.2              Metode Penelitian
            Penelitian ini bersifat studi kasus yang dilakukan pada masyarakat di sekitar area Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu – Serang. Penelitian ini untuk mempelajari dampak pembangunan pengembangan pelabuhan perikanan terhadap kondisi perubahan lingkungan dan social ekonomi masyarakat dengan tolak ukur tingkat keberlangsungan mata pencaharian, kesehatan serta tingkat pendapatan masyarakat sebagai responden sebelum dan setelah adanya peningkatan status pelabuhan yang diikuti dengan meningkatnya sarana dan prasarana. Sebagai studi kasus, kesimpulan yang dihasilkan terbatas pada komunitas yang diteliti. Untuk lingkup kehidupan social yang lebih luas, kesimpulan tersebut hanya bertaku sebagai proposisi hipotetis.

3.3              Metode Pengumpulan Data
            Metode pengumpulan data yang dilakukan menggunakan instrument wawancara dengan pendekatan survey terhadap masyarakat yang ada di sekitar Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu. Tekhnik pengumpulan data primer dilakukan dengan peninjauan dan pengamatan langsung (observasi) disekitar pelabuhan perikanan. Data sekunder berupa kondisi geografis, demografis, keadaan social ekonomi masyarakat dilokasi dikumpulkan dari instansi terkait yaitu Dinas Perikanan dan Kelautan Prov. Banten, PPN Karangantu, ormas nelayan, akademisi serta instansi lain yang terkait dalam penelitian ini.
            Data yang dikumpulkan mencakup dampak adanya pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu terhadap social ekonomi masyarakat dan lingkungan perairan Karangantu. Kondisi social ekonomi masyarakat yang diamati mencakup perubahan tingkat pendapatan jika dibandingkan antara sebelum dan sesudah adanya perubahan status pelabuhan perikanan. Penetapan responden untuk masing-masing kelompok masyarakat tersebut dilakukan dengan cara sengaja (purposive sampling) dengan kriteris bahwa mereka memiliki mata pencaharian sebagai nelayan Karangantu dan atau disekitar pelabuhan.
            Kondisi ekonomi tersebut digambarkan melalui total pendapatan masing-masing kelompok masyarakat (nelayan, pedagang, pengolah ikan, buruh angkut ikan, padagang asongan, dsb) sebelum dan setelah adanya perubahan status pelabuhan yang diikuti dengan peningkatan sarana dan prasarana peabuhan perikanan. Pendapatan total terdiri atas pendapatan rata – rata perbulan pada saat sebelum dan setelah adanya peningkatan status pelabuhan perikanan.

3.4              Metode Analis Data
            Metode yang digunakan dalam analisis data menggunakan Uji Kruskal Wallis, dimana yang diuji adalah pendapatan dari berbagai kelompok masyarakat dengan kondisi masing-masing sebeluam dan sesudah adanya peningkatan status pelabuhan. Menurut Siegel 1997, hasil yang diperoleh dari uji ini dapat menunjukan ada atau tidaknya perbedaan rata-rata nilai pendapatan diantara kelompok masyarakat sekitar pelabuhan perikanan pada satu kelompok (group) data tertentu. Group tersebut menunjukan waktu sebelum dan sesudah adanya pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan. Metode lain yang digunakan menggunakan Uji t, dimana uji ini dilakukan untuk mengetahui dampak pembangunan pelabuhan terhadap pendapatan masyarakat sekitarnya. Setelah data terkumpul dilakukan pengujian menggunakan perangkat computer dan dianalisis menggunakan program statistic SYSTAT9.
            Untuk metode analisis yang digunakan dalam penentu perubahan lingkungan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan menggunakan quisioner kepada masyarakat sebagai bahan masukan dalam pengolahan analisis sesuai dengan aspek-aspek lingkungan yang akan dikaji dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat  Jenderal Perikanan. 1994.  Petunjuk Teknis Pengelolaan  Pelabuhan             Perikanan. Direktorat Bina Prasarana. Direktorat  Jenderal Perikanan.         Departemen  Pertanian.  Jakarta.
Lubis E dan Sumiati.  2005. Pengembangan Industri Pengolahan Ikan Ditinjau            dari Produksi Hasil Tangkapan di PPN Palabuhanratu. Jurnal Marine             Fisheries  Vol.2 No.1 Mei 2011. Bogor.
Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor       Per.50/Men/2011 Tentang Petunjuk             Teknis Penggunaan Dana Alikasi       Khusus Bidang Kelautan Dan Perikanan 2012.
Siegel. S. 1997.  Statistik  Non Parametrik Untuk  IImu-lImu  Sosial. PT            Gramedia. Jakarta.
Yusuf H, Moedikdjo K, Saeni MS, Nasution LI, 2005. Dampak Pembangunan   Pelabuhan Perikanan terhadap Penyerapan Tenaga  Kerja dan       Pendapatan Masyarakat (Studi Kasus di Pelabuhan Perikanan             Lempasing Bandar Lampung). Buletin Ekonomi Perikanan. Bogor:         Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Departemen Sosial Ekonomi          Perikanan-Kelautan. Vol VI   Nomor 1. hlm 57-64. 


Kamis, 17 Mei 2012

Format Cover Laporan


Laporan Praktikum Mata Kuliah Fisio Reproduksi
Hopofisasi Ikan








disusun oleh
Brilyan Hidayat Purnomo
4443091064




JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2012

----





Laporan Praktikum Mata Kuliah Fisio Reproduksi Pengambilan Hipofisa Dan Pengawetan


Laporan Praktikum Mata Kuliah Fisio Reproduksi
Pengambilan Hipofisa Dan Pengawetan






















disusun oleh
Brilyan Hidayat Purnomo
4443091064




JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2012























----------


Kata Pengantar



              Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan praktikum Fisio Reproduksi yang berjudul “Seksualitas Ikan” ini dapat diselesaikan.
              Laporan ini disusun berdasarkan praktikum yang sebelunya telah dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Perairan Jurusan Perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan menggunakan dua jenis preparat. Yakni ikan mas dan ikan lele. Ke-2 jenis ikan-ikan tersebut diamati secara seksama untuk mendapatkan hasil seobjektif mungkin.
              Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada para assisten praktikum biologi perikanan yang telah memberikan arahan ketika melakukan praktikum tersebut.
              Tidak ada gading yang tak retak oleh karena itu penulis menyadari bahwa laporan praktikum ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan dalam penulisan untuk masa akan datang. Semoga laporan ini bermanfaat dan berguna.

.

                                                                                    Serang, 2 Mei 2012


                                                                                    Penulis





Daftar Isi


Kata Pengantar............................................................................................... 1
Daftar Isi........................................................................................................ 2
BAB I. Pendahuluan...................................................................................... 3
     1.1 Latar Belakang.................................................................................... 3
     1.2 Tujuan.................................................................................................. 4         
BAB II Hasil Praktikum................................................................................ 5         
Daftar Pustaka................................................................................................ 8         






















BAB I
 PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
              Pembenihan adalah salah satu bentuk unit pengembangan budidaya ikan. Pembenihan inimerupakan salah satu titik awal untuk memulai budidaya. Ikan yang akan dibudidayakan harusdapat tumbuh dan berkembang biak agar kontinuitas produksi budidaya dapat berkelanjutan.Untuk dapat menghasilkan benih yang bermutu dalam jumlah yang memadai dan waktu yangtepat mesti diimbangi dengan pengoptimalan penanganan induk dan larva yang dihasilkanmelalui pembenihan yang baik dan berkualitas.
              Pembenihan dengan ikut campur tangan manusiaatau fertilisasi buatan sudah dapat dilakukan pada berbagai jenis ikan, khususnya bagi ikan yang penjualannya tinggi di pasaran diantaranya komoditas ikan air tawar seperti lele, nila, guramidan lain-lain.Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin.Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenangair.
              Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Padasiang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan ( Suyanto, 1991). Sehingga pemijahan ikan ini terkendala akanmusim, untuk itu pemenuhan akan bibit ikan lele yang bermutu dan sesuai dengan waktu akansulit terpenuhi.Salah satu cara mengatasi masalah di atas dapat dengan pemijahan buatan pada ikan lele.Pemijahan buatan dapat dengan pemberian hormon. Pemberian hormon ini akan membantufertilisasi ikan tanpa perlu terkendala musim sehingga dapat dipijahkan kapanpun sesuaikeinginan.
              Oleh karena itu praktikum tekhnologi pembenihan ikan ini sangat diperlukan untuk menambah wawasan mahasiswa dalam mengetahui teknik-teknik dan hal-hal yang perludiperhatikan dalam pembenihan ikan. mulai dari seksualitas primer dan sekunder ikan, teknik  pembuatan ekstraksi kelenjar pituitary, teknik fertilisasi buatan hingga pada penanganan dan perkembangan telur.

1.2 Tujuan
              Adapun tujuan dari praktikum diharapkan agar praktikan dapat mengambil kelenjar hipofisa yang terdapat di dalam kepala ikan preparat dengan baik dan benar serta mengawetkannya.

























BAB II
HASIL PRAKTIKUM


              Hipofisa adalah kelenjar endokrin yang terletak dalam sella tursika, yaitu lekukan dalam tulang sfenoid. Kelenjar hipofisa paling tidak menghasilkan tujuh hormon yaitu GH, ACTH, TSH, LTH, FSH, LH, ICSH, MSH. (budiyanto, 2002) Hipofisa terletak dibawah otak, jadi untuk mengambil kelenjar hipofisa langkah pertama yang harus diambil adalah mengeluarkan otak                   
              Hipofisasi merupakan salah satu teknik untuk mempercepat pemijahan ikan melalui injeksi kelenjar hipofisa. Hipofisasi dapat dilakukan dengan menyuntikkan suspensi kelenjar hipofisa pada tubuh ikan yang akan dibiakkan. Kelenjar hipofisa ini terletak di bawah otak sebelah depan, mengandung hormon gonadotropin yang berfungsi untuk mempercepat ovalusi dan pemijahan (Milne, 1999).
              Kelenjar hipofisa mempunyai peran yang sangat penting, dimana kelenjar yang dihasilkan berupa hormon yang berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangbiakan. Kerusakan dalam pengambilan ekstrak hormon mengakibatkan hormon tersebut tidak berfungsi. Hormon yang berpengaruh dalam pemijahan ikan adalah gonadotropin yang berfungsi dalam pematangan gonad dan mengontrol ekskresi hormon yang dihasilkan oleh gonad (Hurkat dan Mathur, 1986). Menurut Budiyanto (2002), Hipofisa adalah kelenjar endokrin yang terletak dalam sella tursika, yaitu lekukan dalam tulang sfenoid. Kelenjar hipofisa paling tidak menghasilkan tujuh hormon yaitu GH, ACTH, TSH, LTH, FSH, LH, ICSH, MSH. Hipofisa terletak dibawah otak, jadi untuk mengambil kelenjar hipofisa langkah pertama yang harus diambil adalah mengeluarkan otak.
              Menurut Sumantadinata (1983), ikan betina matang kelamin dicirikan dengan perut yang relatif membesar dan lunak bila diraba, serta dari lubang genital keluar cairan jernih kekuningan, naluri gerakan lambat, postur tubuh gemuk, warna tubuh kelabu kekuningan dan lubang kelamin berbentuk bulat telur dan agak melebar serta agak membengkak. Ciri ikan jantan yang sudah matang kelamin antara lain mudah mengeluarkan milt perutnya diurut, naluri gerakan lincah, postur tubuh dan perut raming warna tubuh kehijauan dan kadang gelap, lubang kelamin agak menonjol serta sirip dada kasar dan perutnya keras.

Kelebihan dan Kekurangan Hipofisasi
              Kelebihan dari hormon hipofisa adalah hormon ini bisa disimpan dalam waktu lama sampai dua tahun. Penggunaan hormon ini juga relatif mudah (hanya membutuhkan sedikit alat dan bahan), tidak membutuhkan refrigenerator dalam penyimpanan, dosis dapat diperkirakan berdasar berat tubuh donor dan resepien, adanya kemungkinan terdapat hormon hormon lain yang memiliki sifat sinergik.
              Kekurangan dari teknik hipofisasi adalah adanya kemungkinan terjadi reaksi imunitas (penolakan) dari dalam tubuh ikan terutama jika donor hipofisa berasal dari ikan yang berbeda jenis, adanya kemungkinan penularan penyakit, adanya hormon hormon lain yang mungkin akan merubah atau malah menghilangkan pengaruh. Efek dosis yang lebih tinggi terbukti akan menyebabkan makin cepatnya masa laten Pemijahan. Hal ini diduga berhubungan dengan meningkatnya konsentrasi 17 α, 20 β.
              Dalam pengawetan kelenjar hipofisa ada dua metode yang biasa dilakukan dalam mengawetkan kelenjar hipofisa yaitu metode kering dan metode basah. Metode kering dilakukan dengan menggunakan larutan aseton. Kelenjar hipofisa direndam dalam larutan aseton selama 8-12 Jam, kemudian larutan aseton dibuang dan kelenjar hipofisa dikeringkan lalau disimpan. (Susanto, 2001)
              Metode basah digunakan dengan larutan alkohol pekat. Kelenjar hipofisa dimasukan dalam larutan alkohol selama 24 jam. Dalam proses perendaman alkohol diganti selama 2-3 kali. Setelah 24 jam kelenjar hipofisa dibiarkan terendam larutan alkohol sampai akan digunakan. (susanto, 2001)
              Dalam aplikasi di lapangan, pengambilan kelenjar hipofisa pada ikan lele di utamakan yang berjenis kelamin jantan dengan pembedahan pada bagian kepala.



































Daftar Pustaka


Budiyanto. 2002. Pengaruh Penyuntikan Ekstraks Kelenjar Hipofisa Ikan Patin                              Terhadap Laju Pertumbuhan Harian Ikan Koi yang Dipelihara Dalam                                  Sistem Resirkulasi. (Skripsi tidak dipublikasikan). Bogor: Program                                Studi Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikananan dan Ilmu Kelautan

Hurkat dan Mathur. 1986. Text Book of Animal Physiology. S. Clark Ltd, New                            Delhi.

Milne, L.J. 1999. Animal Zoology. Prentice Hall Inc, New Jersey.

Susanto, H. 2001. Teknik Kawin Suntik Ikan Ekonomis. Jakarta : Penebar                                      Swadaya

Sumantadinata, K. 1983. Pengembangan Ikan-Ikan Pemeliharaan di Indonesia.                              Sastra Budaya, Jakarta.