ANALISIS DAMPAK PENINGKATAN STATUS
PELABUHAN DARI TIPE C (PPP) KE TIPE B (PPS) TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN PENDAPATAN
NELAYAN
(Studi
Kasus di Pelabuhan Perikanan Karangantu, Banten)
Skripsi
Diajukan Sebagai
Bagian Persyaratan
Memperoleh Gelar
Sarjana S-1 Perikanan pada
Bidang Kajian
Penangkapan Ikan
Brilyan Hidayat
Purnomo
4443091064
![]() |
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG
TIRTAYASA
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT atas limpah rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga
penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Dampak Peningkatan
Status Pelabuhan Dari Tipe C (PPP) Ke Tipe B (PPS) Terhadap Pendapatan Nelayan
(Studi Kasus di Pelabuhan Perikanan Karangantu, Banten)”.
Pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan rasa terimakasih yang mendalam kepada :
1.
Bapak H. Suherna ,SP.,Msi selaku Dekan Fakultas
Pertanian.
2.
Bapak Dr. Mustahal selaku Ketua Jurusan Perikanan.
3.
Bapak Adi Susanto selaku dosen pembimbing yang dengan
sabar dan ikhlas memberikan bimbingan, pengarahan serta dorongan moril sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan.
4.
Ayah, Ibu, kakak dan adik yang telah memberikan do’a
dan dukungannya.
5.
Teman-teman di Fakultas Pertanian pada umumnya dan di Jurusan
Perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada khususnya atas saran dan
motivasi yang telah diberikan.
6.
Teman-teman seangkatan yang mengambil Bidang Kajian
Perikanan Penangkapan Ikan , atas saran, dukungan serta kerjasamanya selama
kuliah dan penelitian serta semua pihak yang secara langsung maupun tidak
langsung ikut membantu dalam proses penelitian ini.
Penulis
menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Penulis berharap semoga karya
tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada
umumnya, Amin Ya Rabbal Alamin
Serang,
10 November 2012
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
BAB I. PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1
Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2
Perumusan Masalah............................................................................. 1
1.3 Tujuan Penelitian................................................................................. 2
1.4 Manfaat Penelitian............................................................................... 3
1.5 Hipotesis Penelitian............................................................................. 3
1.6 Kebaruan / Novelty.............................................................................
3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 4
2.1
Pelabuhan Perikanan............................................................................ 4
2.2 Pengembangan Pelabuhan................................................................... 6
BAB III METODOLOGI............................................................................ 8
3.1
Waktu dan Tempat.............................................................................. 8
3.2
Metode Penelitian................................................................................ 8
3.3 Metode Pengumpulan Data................................................................. 8
3.4 Metode Analisis Data.......................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 10
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Indonesia
merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang garis pantai lebih dari 81.000 km
serta lebih dari 17.508 pulau dan luas
laut sekitar 3,1 juta Km² sehingga wilayah pesisir dan lautan Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan
dan keanekaragaman hayati (biodiversity)
laut terbesar di dunia dengan memiliki ekosistem pesisir seperti mangrove, terumbu karang
(coral reefs) dan padang lamun (sea grass beds).
Dengan adanya potensi sumberdaya
alam yang melimpah dan menakjubkan yang dimiliki Indonesia sudah semestinya
didukung dengan system pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam terutama dalam
pemanfaatan dan pengeloaan sumberdaya alam laut yang sesuai dan santun guna
membangun perekonomian yang mandiri.
Hal tersebut didukung dari factor
geografis Indonesia yang merupakan Negara kepulauan terbesar dan memiliki luas
laut sekitar 3,1 juta Km² sehingga diharapkan dengan system pengelolaan dan
manajemen yang baik serta dukungan
sarana dan prasarana yang memadai dapat membantu taraf ekonomi masyarakat
bangsa Indonesia, terutama yang berhubungan langsung dengan pemanfaatan sumber
daya alam laut (nelayan, pembudidaya ikan laut, petani rumput laut, penyedia
jasa transfortasi, dsb).
1.2
Perumusan
Masalah
Salah
satu aktivitas utama di wilayah pesisir adalah aktivitas pelabuhan sebagai
sarana pendukung transportasi dan aktivitas lainnya. Secara prinsip hubungan
kegiatan pembangunan oleh manusia di laut tidak dapat dipisahkan dengan daerah
pesisir bahkan di darat seluruhnya. Pada dasarnya laut sebagai area eksploitasi
dan di darat terjadi proses nilai tambahnya. Dalam konteks ekonomi keruangan antara
laut dan pantai bahkan kota-kota pantai secara ekonomi menyatu, bahkan bagi
sektor pelabuhan akan tergantung tidak hanya kepada wilayah atau ruang kelautan
sebagai wahana transportasi saja, namun tergantung pula dengan sistem kota-kota
dan region yang mendukungnya, karena fungsi pelabuhan tergantung kepada
produk-produk yang akan diekspor dan diimport maupun manusia yang akan
melakukan perjalanan dari dan menuju suatu wilayah.
Pada dasarnya pembangunan dan
pengembangan pelabuhan perikanan yang telah dilakukan, dalam hal ini membahas
pengembangan pelabuhan Karangatu – Provinsi Banten merupakan salah satu tindak
lanjut dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan merupakan hasil dari pembahasan
pengembangan pelabuhan perikanan Nusantara Karangantu antara Menteri Kelautan
dan Perikanan RI Syariep Cicip Sutardjo dengan Gubernur Banten Ratu Atut
Chosiyah di kantor KKP RI. Tujuan dengan peningkatan status pelabuhan tersebut
nantinya akan berperan sebagai pusat pengembangan usaha perikanan dan pusat
pertumbuhan ekonomi berbasis perikanan.
Seyogyanya dalam setiap pembangunan
terutama dalam hal ini pengembangan pelabuhan perikanan dapat memberikan
manfaat atau dampak positif terhadap kelangsungan social ekonomi (peningkatan
pendapatan) dan lingkungan pesisir, dimana lingkungan pesisir ini nantinya akan
jadi korban demi menunjang pertumbuhan ekonomi tersebut. Pasalnya, setelah
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Karangantu ditingkatkan statusnya menjadi
Pelabuhan Perikanan Nusantara hingga saat ini infrastruktur dan prasarana serta
sarana penunjang pelabuhan tersebut belum tercapai. Sampai saat ini penelitian
tentang bagaimana dampak pembangunan terutama pengembangan Pelabuhan Perikanan
Karangantu terhadap kondisi social ekonomi masyarakat sekitar dan dampak
kerusakan lingkungan yang terjadi.
1.3
Tujuan
Penelitian
Tujuan
dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis dampak dilakukannya
pembangunan pengembangan pelabuhan perikanan pantai Karangantu, Serang terhadap
perubahan social ekonomi (pendapatan) dan kerusakan lingkungan yang terjadi,
sehingga akan diketahui kelompok masyarakat yang utama yang mendapatkan manfaat
dari adanya pembangunan pengembangan Pelabuhan Perikanan Pantai di Karangantu –
Serang menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara.
1.4
Manfaat
Penelitian
Manfaat
utama yang didapat dari penelitian tentang Analisis Dampak Penigkatan Status
Pelabuhan Dari Tipe C (PPP) ke Tipe B (PPN) Terhadap Perubahan Lingkungan dan
Pendapatan Nelayan (studi kasus di Pelabuhan Karangantu, Banten) untuk
mengetahui studi kelayakan pembangunan tersebut dengan didukung dari manfaat
perubahan social ekonomi (pendapatan) dan kerusakan lingkungan yang terjadi,
sehingga apakah ada kelompok masyarakat yang utama yang mendapat keuntungan.
1.5
Hipotesis
Penelitian
Hipotesis
utama penelitian ini adalah bahwa dengan adanya pengembangan PPP menjadi PPN
Karangantu telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Pelabuhan
Karangantu. Diduga dengan adanya pengembangan PPP Karangantu akan mempengaruhi
tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir dan lingkungan perairan Karangantu.
1.6
Kebaruan /
Novelty
Kebaruan
dari penelitian ini adalah membuat model pengelolaan pelabuhan perikanan yang
tepat guna sehingga diharapkan dalam pengembengannya dapat dapat dilaksanakan
secara efektif dan efisien secara menyeluruh.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Pelabuhan
Perikanan
Pelabuhan
perikanan merupakan kawasan pengembangan industri perikanan, karena pembangunan pelabuhan
perikanan di suatu daerah atau wilayah merupakan embrio pembangunan
perekonomian. Keberadaan pelabuhan perikanan dalam arti fisik, seperti
kapasitas pelabuhan harus mampu mendorong kegiatan ekonomi lainnya sehingga
pelabuhan perikanan menjadi suatu kawasan pengembangan industri perikanan
(Yusuf et al., 2005).
Berdasarkan Peraturan Menteri
Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia NOMOR PER.50/MEN/2011 pelabuhan
perikanan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya
(termasuk di perairan umum daratan)
dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang
dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh dan/atau
bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan
kegiatan penunjang perikanan yang memiliki fungsi:
a.
Pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan dan kapal pengawas pengawas perikanan;
b. Pelayanan
bongkar muat;
c. Pelaksanaan
pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan;
d. Pemasaran dan
distribusi ikan;
e. Pengumpulan
data tangkapan dan hasil perikanan;
f. Pelaksanaan
penyuluhan dan pengembangan masyarakat perikanan;
g. Pelaksanaan
kegiatan operasional kapal perikanan;
h. Pelaksanaan
pengawasan dan pengendalian sumberdaya ikan;
i. Pelaksanaan
kesyahbandaran;
j. Pelaksanaan
fungsi karantina ikan;
k. Publikasi
hasil riset kelautan dan perikanan;
l.
Pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari atau pemantauan wilayah darat dan wisata perairan darat untuk PUD;
m.
Pengendalian lingkungan (kebersihan, keamanan dan ketertiban/k3; kebakaran; dan pencemaran);
n. Adapun pelabuhan perikanan diklasifikasikan
kedalam 4 (empat) klas, yaitu:
1) Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS);
2) Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN);
3) Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP);
4) Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).
Didalam pelaksanaan fungsi dan
peranannya, pelabuhan perikanan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Kapasitas
dan jenis fasilitas yang ada di suatu pelabuhan perikanan umunnya akan
menentukan skala atau tipe dari suatu pelabuhan dan akan berkaitan pula dengan
skala produksi ikannya. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan (1994), ada beberapa kegiatan perikanan yang sangat
bergantung kepada fasilitas dan pelayanan pelabuhan perikanan, kegiatan
tersebut secara terperinci adalah :
1) Produksi :
bahwa pelabuhan perikanan sebagai tempat para nelayan untuk melakukan
kegiatan-kegiatan produksinya, mulai dari memenuhi kebutuhan perbekalan untuk
menangkap ikan di laut sampai membongkar hasil tangkapannya.
2) Pengolahan :
bahwa pelabuhan perikanan menyediakan sarana-sarana yang dibutuhkan untuk
mengolah hasil tangkapannya.
3) Pemasaran :
bahwa pelabuhan perikanan pusat pengumpulan dan tempat awal pemasaran hasil
tangkapannya.
Peran pelabuhan perikanan adalah
sebagai simpul moda transportasi
perikanan tangkap dalam menunjang dan menggerakkan perekonomian utamanya
sebagai gerbang dari suatu wilayah yang merupakan tempat embarkasi dan
debarkasi bagi komoditi hasil laut laut. Pelabuhan perikanan juga merupakan
prasarana yang dapat mendukung dalam meningkatkan pendapatan nelayan dan
sekaligus mendorong investasi di bidang perikanan. Fungsi pelabuhan perikanan
adalah sebagai pusat pengembangan masyarakat nelayan, tempat berlabuh kapal
kapal perikanan, tempat pendaratan ikan hasil tangkapan, tempat untuk
memperlancar kegiatan kapal-kapal perikanan, pusat pemasaran dan distribusi
ikan hasil tangkapan, dan tempat pelaksanaan penyuluhan. Pelabuhan perikanan sangat diperlukan untuk menunjang
aktifitas perikanan dalam kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan
yang mencakup kegiatan pra produksi, produki, pengolahan, pemasaran dan
pengawasan. Sasaran utama pembangunan pelabuhan perikanan adalah meningkatkan
taraf hidup nelayan, dan sebagai pusat pengembangan ekonomi masyarakat perikanan.
Sasaran tersebut menuntut peningkatan produksi dan produktivitas dari setiap jenis
usaha perikanan. Menurut Lubis et al. 2005, “Kontribusi setiap jenis usaha
perikanan tersebut dapat dibuktikan oleh kuatnya upaya peningkatan nilai tambah
produk perikanan laut di pasar dunia dan upaya pemerintah Indonesia untuk
mengingkatkan ekspor ke negara-negara maju dalam rangka memperoleh devisa yang
lebih besar dan semakin meningkatnya kebutuhan pangan (protein hewani) di pasar
nasional”. Di sektor perikanan laut, peningkatan tersebut dilaksanakan melalui
motorisasi atau modernisasi perahu layar dan kapal perikanan, penggunaan alat
tangkap yang lebih produktif serta perluasan daerah penangkapan (fishing
ground) yang mengarah kepada pemanfaatan kawasan nusantara dan zona ekonomi
ekslusif (ZEE).
2.2
Pengembangan
Pelabuhan
Pengembangan suatu pelabuhan perikanan
harus direncanakan sesuai dengan pola pengembangan yang telah ditentukan.
Menurut Lubis (2002), pola pengembangan suatu pelabuhan perikanan adalah acuan
awal mengembangkan suatu pelabuhan perikanan. Pola pengembangan pelabuhan
perikanan diperlukan agar pembangunan dan operasionalnya sesuai dengan fungsi
dan tujuan pengembangannya. Penyusunan pola pengembangan pelabuhan harus ada
didalam triptyque portuaire untuk
pelabuhan perikanan, yakni ketrkaitan antara aspek wilayah prodeksi (foreland),
wilayah distribusi (hinterland) dan aspek pelabuhan perikanan (fishing port)
agar fungsi dan tujuannya bias dicapai.
Pembangunan pelabuhan perikanan
dimaksudkan untuk menjadi penggerak utama perekonomian masyarakat nel ayan,
sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi wilayah dan kesejahteraan
masyarakat nelayan. Untuk itu pengembangan pelabuhan perikanan harus didasarkan
pada : a) adanya ketersediaan sumber daya ikan secara berkesinambungan; b)
hasil tangkapan yang didaratkan haruslah memiliki nilai ekonomi tinggi dan
industri pengolahan yang memberikan nilai tambah besar; c) keterlibatan
masyarakat dalam prose perencanaan dan pemanfaatannya, sehingga memberikan
manfaat yang sebesar besarnya bagi masyarakat; d) keterkaitan antar sektor di mana keberadaan
PP/PP memberikan multiplier effect
sehingga dapat mengembangkan ekonomi wilayah.
III.
METODOLOGI
3.1
Waktu dan
Tempat
Waktu penelitian mulai dari tahap
perencanaan, pelaksanaan penelitian hingga tabulasi dan analisis data dilakukan
dalam periode waktu bulan Januari hingga Maret 2012. Lokasi penelitian bertempat di Pelabuhan Perikanan
Nusantara Karangantu, area pemukiman nelayan yang berada disekitar pelabuhan
tersebut serta wilayah pesisir pelabuhan.
3.2
Metode
Penelitian
Penelitian
ini bersifat studi kasus yang dilakukan pada masyarakat di sekitar area
Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu – Serang. Penelitian ini untuk
mempelajari dampak pembangunan pengembangan pelabuhan perikanan terhadap
kondisi perubahan lingkungan dan social ekonomi masyarakat dengan tolak ukur tingkat
keberlangsungan mata pencaharian, kesehatan serta tingkat pendapatan masyarakat
sebagai responden sebelum dan setelah adanya peningkatan status pelabuhan yang
diikuti dengan meningkatnya sarana dan prasarana. Sebagai studi kasus,
kesimpulan yang dihasilkan terbatas pada komunitas yang diteliti. Untuk lingkup
kehidupan social yang lebih luas, kesimpulan tersebut hanya bertaku sebagai
proposisi hipotetis.
3.3
Metode
Pengumpulan Data
Metode
pengumpulan data yang dilakukan menggunakan instrument wawancara dengan
pendekatan survey terhadap masyarakat yang ada di sekitar Pelabuhan Perikanan
Nusantara Karangantu. Tekhnik pengumpulan data primer dilakukan dengan
peninjauan dan pengamatan langsung (observasi) disekitar pelabuhan perikanan.
Data sekunder berupa kondisi geografis, demografis, keadaan social ekonomi
masyarakat dilokasi dikumpulkan dari instansi terkait yaitu Dinas Perikanan dan
Kelautan Prov. Banten, PPN Karangantu, ormas nelayan, akademisi serta instansi
lain yang terkait dalam penelitian ini.
Data yang dikumpulkan mencakup
dampak adanya pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu terhadap
social ekonomi masyarakat dan lingkungan perairan Karangantu. Kondisi social
ekonomi masyarakat yang diamati mencakup perubahan tingkat pendapatan jika
dibandingkan antara sebelum dan sesudah adanya perubahan status pelabuhan
perikanan. Penetapan responden untuk masing-masing kelompok masyarakat tersebut
dilakukan dengan cara sengaja (purposive sampling) dengan kriteris bahwa mereka
memiliki mata pencaharian sebagai nelayan Karangantu dan atau disekitar pelabuhan.
Kondisi ekonomi tersebut digambarkan
melalui total pendapatan masing-masing kelompok masyarakat (nelayan, pedagang,
pengolah ikan, buruh angkut ikan, padagang asongan, dsb) sebelum dan setelah
adanya perubahan status pelabuhan yang diikuti dengan peningkatan sarana dan
prasarana peabuhan perikanan. Pendapatan total terdiri atas pendapatan rata –
rata perbulan pada saat sebelum dan setelah adanya peningkatan status pelabuhan
perikanan.
3.4
Metode
Analis Data
Metode yang digunakan dalam analisis
data menggunakan Uji Kruskal Wallis, dimana
yang diuji adalah pendapatan dari berbagai kelompok masyarakat dengan kondisi
masing-masing sebeluam dan sesudah adanya peningkatan status pelabuhan. Menurut
Siegel 1997, hasil yang diperoleh dari uji ini dapat menunjukan ada atau
tidaknya perbedaan rata-rata nilai pendapatan diantara kelompok masyarakat
sekitar pelabuhan perikanan pada satu kelompok (group) data tertentu. Group
tersebut menunjukan waktu sebelum dan sesudah adanya pembangunan dan
pengembangan pelabuhan perikanan. Metode lain yang digunakan menggunakan Uji t,
dimana uji ini dilakukan untuk mengetahui dampak pembangunan pelabuhan terhadap
pendapatan masyarakat sekitarnya. Setelah data terkumpul dilakukan pengujian
menggunakan perangkat computer dan dianalisis menggunakan program statistic
SYSTAT9.
Untuk metode analisis yang digunakan
dalam penentu perubahan lingkungan menggunakan teknik analisis deskriptif
kualitatif dengan menggunakan quisioner kepada masyarakat sebagai bahan masukan
dalam pengolahan analisis sesuai dengan aspek-aspek lingkungan yang akan dikaji
dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Perikanan. 1994. Petunjuk
Teknis Pengelolaan Pelabuhan Perikanan. Direktorat Bina
Prasarana. Direktorat Jenderal
Perikanan. Departemen Pertanian.
Jakarta.
Lubis E dan
Sumiati. 2005. Pengembangan Industri Pengolahan Ikan Ditinjau dari Produksi Hasil Tangkapan di PPN Palabuhanratu.
Jurnal Marine Fisheries Vol.2 No.1 Mei 2011. Bogor.
Peraturan
Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.50/Men/2011 Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alikasi Khusus Bidang Kelautan Dan Perikanan 2012.
Siegel. S.
1997. Statistik Non Parametrik
Untuk IImu-lImu Sosial. PT Gramedia. Jakarta.
Yusuf H,
Moedikdjo K, Saeni MS, Nasution LI, 2005. Dampak
Pembangunan Pelabuhan Perikanan terhadap
Penyerapan Tenaga Kerja dan Pendapatan Masyarakat (Studi Kasus di
Pelabuhan Perikanan Lempasing
Bandar Lampung). Buletin Ekonomi Perikanan. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Departemen Sosial
Ekonomi Perikanan-Kelautan. Vol
VI Nomor 1. hlm 57-64.



.jpg)